Sabtu, 19 Mei 2012

Sertifikasi Karya Seniman Bisa Jadi Jebakan






AGAR hasil karya para seniman Indonesia diakui di dunia internasional, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti berencana mengeluarkan sertifikasi karya para seniman. Rencana tersebut didasarkan pertimbangan adanya tren yang digandrungi kawula muda saat ini, yaitu kiprah boyband asal Korea. Dengan sertifikasi ini diharapkan para seniman nusantara bisa meraih banyak penghargaan dan pengakuan dari manca negara. 

Sesuatu yang pastinya baik dan memiliki sikap kepedulian atas para seniman Indonesia tercinta. Namun sangat disayangkan, secarik sertifikasi sangat perlu untuk dipertimbangkan kembali mengingat dua faktor yang terkait: Pertama landasan penilaian sertifikasi itu sendiri. Sebuah penilaian yang mendasar saja tidak cukup untuk memberi "pangkat" para seniman kita. Agar tidak menjadi sebuah ajang diskriminasi dan jual-beli, diperlukan sebuah dasar penilaian yang obyektif dan adil. 

Masalahnya, penilaian yang demikian tidaklah mudah. Misalnya dari faktor bahwa tentunya penilaian tersebut harus memiliki tingkatan, namun tingkatan ini pun harus pula dipertimbangkan. Sampai sebanyak apa level tingkatan harus tersedia dalam penerapan sertifikasi, dan sampai sejauh mana agar dapat memenuhi tingkatan seniman kita yang sudah sangat kompleks. Selain tingkatan, dasar penilaian seorang seniman adalah dari karya mereka. Nilai sebuah karya bukan hanya dari harga jual atau harga belinya saja, namun juga mempertimbangkan perjalanan karya sebelumnya dari seorang seniman terkait, pengalaman yang tercatat, dan pengakuan lain yang bersifat nonkomersial.

Singkat kata, sertifikasi memerlukan rentetan proses kompleks yang saling terkait dalam mencapai penilaian yang obyektif dan adil. Apakah hal ini sudah ada solusi konkret yang terencana? Selain dari penilaian, faktor kedua juga perlu ditinjau dari sisi pengembangan para seniman itu sendiri. Sebuah sertifikasi tidak lain akan hanya membuat steril yang akan menghambat perkembangan ekspresi seni dari seorang seniman itu sendiri. Dalam berkarya seorang seniman harusnya bukan berdasarkan suatu nilai atau benchmark yang ditetapkan, baik oleh sebuah lembaga maupun kolektor.


Menurut Prof Dwi Marianto, sebuah karya seni baru menjadi sebuah karya seni yang berhasil apabila karya seni tersebut mampu memberikan daya hidup bagi pengamatnya. Untuk itu, sebuah karya seni yang memberi daya hidup tersebut, perlu pengembangan ekspresi yang bersifat lompatan (quantum leap). Berdasarkan proses ini, sebuah sertifikasi akan menemui kesulitan yang tinggi dalam memberi sebuah penilaian. Dengan adanya sertifikasi, maka pemerintah akan memberikan jebakan yang tidak disadari, yang akan menjerat banyak seniman bukan lagi berfokus pada ekspresi namun lebih mengejar "tingkatan-tingkatan" yang akan menentukan pangkat, penghargaan dan pengakuan yang berkelas internasional.


Memang keberadaan para seniman Indonesia masih banyak yang memerlukan uluran tangan pemerintah kita. Justru keberadaan sertifikasi ini akan menambah "beban" gelar akademis di pundak mereka. Yang mereka perlukan adalah sebuah wadah untuk mereka bisa mendapatkan dukungan yang lebih pasti, agar bisa lebih bebas berkarya. Bukan justru menambah "gawang" baru yang membuat fokus dan orientasi mereka bias. Sebagaimana yang terjadi di Inggris dan negara Eropa lainnya, sebuah setifikasi justru tidak diberlakukan secara legalitas. Sistem sertifikasi ini lebih banyak dianut oleh negara yang masih berkembang, yang notabenenya memerlukan pengakuan dalam memasuki sistem ekonomi dunia yang bersifat kapitalis. Selama negara berkembang ini belum bisa merdeka dan mandiri dari kebutuhan dalam negerinya, di situlah letak ketergantungan mereka dalam sistem ini. Namun inilah nilai lebih dari sebuah seni, seni dapat hidup terlepas dari ancaman "embargo" kapitalis.


Seperti halnya dengan pidato Sri Sultan Hamengkubuwono X, pada acara memperingati 100 tahun Mendiang Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sebuah pameran “Negari Ngayogyakarta Hadiningrat” yang diadakan tanggal 13 sampai 27 April 2012 di Jogja National Museum (JNM). Dalam pidatonya, Sri Sultan justru menyatakan bahwa Yogyakarta membuka diri pada dunia, sehingga menjadi pusat pembelajaran dan pertemuan seni, baik bagi Indonesia maupun dunia. Selain itu Yogya juga berorientasi menjadi pusat budaya asia tenggara, dan membuka diri bagi para seniman dunia untuk belajar di Yogya. Sebuah seni tidak memiliki batas yang mudah dinilai, namun seni yang mampu memberikan nilai daya hidup yang terkandung di dalamnyalah yang menjadi fundamental legalitas bagi para senimannya.


Jelas kesalahan bukan dari niat pemerintah dalam "menolong nasib" para seniman Indonesia, namun yang perlu diperbaiki adalah pola pikir kita. Mengapa kita terus berpikir hanya sebatas untuk menjadi bagian dari sistem dunia, namun bukan sebaliknya berpikir untuk menjadi pionir dan pusat kesenian bagi dunia? Indonesia adalah negeri yang kaya akan kesenian dan budaya. Bila eksistensi kita terus diwujudkan dengan karya yang berdaya hidup, maka justru sertifikasi kita adalah daya hidup itu sendiri.


SENI




Segala sesuatu bisa dikaitkan
Dengan unsur seni,
Namun tidak setiap orang mampu
mengungkap sesuatu dengan seni. 
Seninya hidup justru terletak 
pada ketidak-pastian, unsur kejutan serta resiko. 
Semua unsur itu mampu membangkitkan harapan 
sebagai sumber energi 
yang sekaligus menjadi pembatas yang inspiratif.






Jumat, 18 Mei 2012

Pengertian Seni




Didalam kehidupan manusia kata seni sering sekali dikaitkan dengan sebuah karya gambar atau lukisan. Ada semacam kesalahan didalam mengartikan kata seni yang sebenarnya sangat luas.

Banyak sekali hal hal yang berkaitan dengan kegiatan manusia yang sangat indah walaupun itu bukan dalam bentuk karya lukis. Misalnya ada sebuah analisa yang sangat baik mengenai kebutuhan perang didunia ini dimana disana terlihat adanya sebuah kecenderungan memakai kata seni untuk sebuah rencana penyerangan ataupun untuk bertahan. Dalam hal ini kata seni sama sekali sudah tidak berbentuk karya gambar ataupun lukisan tetapi dalam bentuk konsep strategi perang.

Ada sebuah contoh lain dimana seseorang membuat kesalahan yang sering membuat dirinya terpuruk pada kemiskinan dan ketidak percayaan pada kehidupan ini. Tiba tiba didalam pikirannya muncul sebuah gagasan untuk merobah sikap hidup dan cara dia menjalaninya. Sekelumit terlihat ada sebuah sinar terang berada didalam pikirannya dan dia begitu kagum dengan cahaya tersebut karena menerangi seluruh alam pikirannya dan disana dia melihat betapa indahnya pengalaman dia yang membuat dirinya begitu menyadari bahwa tanpa kesalahan dan pengalaman yang pahit sangatlah mustahil dia mendapatkan cahaya itu dan disitulah dia menyadari betapa sebuah kesalahan dan kemiskinan merupakan sebuah seni kehidupan yang membuat hidup ini menjadi lebih indah dan mempunyai arti yang begitu dalam.

Jadi apa sebenarnya seni itu ?

Jika kita melihat dari asal muasalnya kata seni sebenarnya sangatlah sederhana karena kata ini hanya sekedar istilah yang tanpa sengaja dilontarkan oleh seseorang yang pada waktu itu sangat mengagumi sebuah keindahan alam dan didalam bayangan kalbunya keindahan alam itu begitu merasuk kedalam jiwanya dan tanpa dia pikir pikir lagi dengan segera dia mengungkap keindahan itu dengan kata seni yang berarti indah.

Walaupun cerita diatas belum tentu benar atau tidaknya tetapi dari situ kita dapat membaca bahwa memang kata seni seringkali dikaitkan dengan keindahan yang memang jelas ada hubungannya.

Seni didalam bahasa lain bisa juga berarti bahasa atau suara dimana setiap orang yang mengeluarkan suara indah selalu dikategorikan dengan seni suara. Nah apabila segala yang indah indah itu selalu dikaitkan dengan seni, apakah memang seni itu sama dengan indah ?

Ada semacam kerancuan didalam memberikan ketepatan dalam pengertian seni karena setiap orang dapat saja berbicara seni menurut sudut pandangnya masing tanpa dapat dipersalahkan ataupun diganti dengan sudut pandang lain, tetapi sepertinya sudah ada kesepakatan tanpa rundingan dimana kata seni sering sekali dikaitkan dengan kata indah sehingga seperti sudah menjadi kebiasaan bahwa seni itu indah, dan karena sepertinya semua orang dengan sudut pandang manapun akan sepakat bahwa SENI adlh :

SEBUAH KEINDAHAN YANG DAPAT MENGUNGKAP RASA
SAMPAI JAUH KEDALAM JIWA SESEORANG

Jadi apabila pernah merasakan sebuah getaran keindahan yang begitu dalam dan membuat kita tidak dapat lagi melupakannya maka artinya kita sudah dapat menangkap arti kata seni dalam arti yang sebenarnya.

Memahami apa kreatif itu



Sebelum kita menetapkan menjadi kreatif, kita terlebih dahulu membicarakan apa sebenarnya kreatif itu. Jika kita tidak tahu apa yang sedang dibicarakan, maka akan sulit bagi kita untuk menentukan cara untuk menjadi kreatif. Dalam beberapa kamus, saat mencari definisi kreatif maka kita akan menemukan kata kreatifitas, sering kali kreatif disamakan dengan kreatifitas. Kreatif merupakan kata dasar dari kreatifitas, sedangkan kreatifitas adalah aktifitasnya. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa kreatifitas sebagai kemampuan untuk mencipta. Adapun Wikipedia memiliki pengertian lain, kreatifitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan dan konsep yang sudah ada. 

Dari sudut pandang keilmuan , hasil dari pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran divergent ), biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sedangkan alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreatifitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru. Walaupun pengertia kreatifitas seperti di atas namun sering kali namun muncul definisi yang beragam, sebab pengertian kreatifitas itu tergantung pada cara kita mendefinisikannya. Tidak ada satupun definisi yang dianggap dapat mewakili pemahaman yang beragam tentang kreatifitas (Supardi, 2001 : 6) Hal ini disebabkan karena dua alasan yaitu : 
Kreatifitas merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multidimensional, yang mengandung berbagai tafsiran yang beragam. 
Definisi-definisi kreatifitas memberikan tekanan yang berbeda-beda, tergantung dasar teori yang menjadi acuan pembuuat definisi. 

Kriteria kreatif menurut Amabile (1983) bahwa penentuan kriteria kreatifitas menyangkut tiga dimensi yaitu : 
Dimensi proses, segala prodak yang dihasilkan dari proses itu dianggap sebagai prodak kreatif. 
Dimensi person, sering dikatakan sebagai keprbadian kreatif. 
Dimensi produ-produk kreatuf, menunjuk pada hasil perbuatan, kinerja atau karya seseorang dalam bentuk barang atau gagasan. 


Setiap orang pada dasarnya memiliki kreatifitas dengan tingkat yang berbeda-beda. Kreatifitas seseorang tidak berlangsung dalam kevakuman, melainkan didahului oleh hasil-hasil kreatifitas orang-orang yang berkaya sebelumnya. Dapat dikatakan juga sebagai kemampuan seseorang menciptakan kimbinasi baru dari hal yang telah ada sehingga menghasilkan sesuatu yang baru.

Keindahan Karya Seni

Keindahan sesungguhnya menyangkut keseimbangan ukuran yakni ukuran material, 
karena sebuah karya seni adalah sebuah perwujudan artistik 
yang merupakan hasil karekteristik yang disertai estatika.

Apa itu Seni

Seni hanya menyajikan suatu ilusi ( bayangan / khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dari kebenaran )

ESTETIKA



Estetika atau keindahan adalah sifat dari sesuatu yang memberi kita rasa senang. Estetika berasal dari Bahasa Yunani yaitu aisthetike. Pertama kali digunakan Alexander Gottieh Baumgarten untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasan.

Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.

Mayesky (1990) menyatakan estetis berkenaan pada satu apresiasi bentuk keindahan dan perasaan haru atau kekaguman. Muharam (1991) menyatakan estetika umumnya dikaitkan dengan pengetahuan keindahan, sedang batasan singkat estetika adalah filsafat dan pengkajian ilmiah dari komponen estetika dan pengalaman manusia. Untuk membantu rasa keindahan anak, dapat dibantu secara kontinyu menemukan keindahan dan kekaguman dalam dunia mereka sehingga pengalaman estetis dapat membantu mengembangkan secara penuh daya hidup pada anak.

Pada masa kini estetika bisa berarti tiga hal, yaitu : (1) studi mengenai fenomena estetis, (2) studi mengenai fenomena persepsi, dan (3) studi mengenai seni sebagai hasil pengalaman estetis. Selanjutnya dijelaskan bahwa estetik sebagai sebuah subjek yang menentukan syarat-syarat estetis yang menganalisa dasar, wawasan, dan implikasinya dari suatu fenomena mengenai estetika.